PSSI Ikut Upaya Global Tolak Pekerja Anak
PSSI melalui PT GSI menggandeng International Labour Organization (ILO) kantor Indonesia dan Timor Leste menggaungkan kampanye global Red Card to Child Labour.
Lewat langkah konkret ini, PSSI mengukuhkan posisinya sebagai asosiasi/federasi sepak bola kelima di dunia yang secara resmi terlibat dalam gerakan Red Card to Child Labour.
Kampanye yang berakar dari Jenewa, Swiss pada 2003 silam ini sebelumnya telah diadopsi oleh FIFA, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF, 2003), Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC, 2004), dan Federasi Sepak Bola China (CFA, 2004).
“Keikutsertaan kami dalam kampanye Red Card to Child Labour merupakan bentuk komitmen nyata PSSI dalam mendukung percepatan penghapusan pekerja anak. Kami berharap gerakan dari lapangan hijau ini mampu memberikan kontribusi besar bagi masa depan anak-anak di Indonesia dan dunia,” kata Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.
Tidak bisa dimungkiri, sepak bola kini telah bergeser dari sekadar olahraga menjadi bahasa universal yang menyatukan masyarakat, tak terkecuali di Indonesia.
Memanfaatkan fanatisme dan ekosistem sepak bola dinilai menjadi strategi krusial untuk mengedukasi publik sekaligus mencegah anak-anak terjebak dalam kerasnya dunia kerja di usia dini.
"Sama seperti kartu merah yang mengakhiri pelanggaran di lapangan hijau, kita harus menghentikan praktik pekerja anak di kehidupan nyata. Setiap anak berhak untuk bermain, belajar, tumbuh, dan bebas dari segala bentuk eksploitasi,” jelas Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor Leste, Simrin Singh.






