Nadiv Asadel, Bocah Tangerang yang Uji Kemampuan di Panggung Catur Dunia
Pecatur muda berusia 12 tahun asal Kabupaten Tangerang Nadiv Asadel, sedang menjalani salah satu fase penting dalam perjalanan caturnya.
Ketertarikan Asadel pada catur muncul saat duduk di kelas 4 SD. Ia kalah dalam pertandingan catur di sekolah, lalu meminta kepada orang tuanya untuk belajar lebih serius. Dari kekalahan kecil itu, perjalanan panjang dimulai.
Pada 2024, Asadel mulai berlatih di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) Gading Serpong. Bakatnya kemudian mendapat perhatian Grandmaster Sean Winshand. Sejak saat itu, Asadel menjalani latihan privat dan program pembinaan yang lebih terarah.
Dalam satu tahun terakhir, intensitas latihan Asadel semakin meningkat. Ia berlatih teori dengan GM Sean Winshand, serta rutin melakukan sparring dan analisis bersama IM Muhammad Ervan dan IM Farid Firmansyah.
Di luar sesi bersama pelatih, Asadel tetap menjalani latihan mandiri, membaca buku catur, berlatih endgame, dan bermain online.
“Dia justru senang kalau waktunya latihan. Ketemu coach itu dia semangat. Kami sebagai orang tua hanya menjaga agar proses ini tetap menyenangkan dan tidak berubah menjadi tekanan,” ujar Hendri.
Di Batumi, Asadel menghadapi lawan-lawan dengan rating internasional. Pada beberapa babak awal, ia berhadapan dengan pemain dari Eropa dan Asia, termasuk lawan dari Korea Selatan, Taiwan, dan Jerman.
Bagi Hendri, pengalaman ini sangat berharga karena menjadi ukuran nyata kemampuan Asadel.
“Rating FIDE itu menurut saya alat ukur yang fair. Yang dihitung hasil pertandingan dan rating lawan. Jadi apa pun hasil akhirnya nanti, itulah gambaran posisi Asadel saat ini. Dari situ kami bisa menyusun peta latihan berikutnya,” jelasnya.



