10 Anak Wakili Indonesia ke Street Child World Cup 2026
Sepuluh anak Indonesia kini bersiap melangkah ke panggung dunia untuk tampil di Street Child World Cup 2026.
Topan, yang tumbuh di kawasan Rawa Badak, Jakarta Utara, hidup di tengah lingkungan dengan berbagai tekanan sosial. Ia memilih menjauh dari lingkaran kekerasan dan menjadikan sepak bola sebagai jalannya.
Sebagai kapten, ia memandang perjalanannya ke Street Child World Cup 2026 sebagai amanah yang melampaui sekadar pertandingan.
“Ini bukan hanya tentang kami bermain di Meksiko. Melalui ajang ini, saya ingin menyuarakan hak-hak anak dan menunjukkan bahwa orang muda dapat membawa perubahan positif," katanya.
"Karena setiap anak, apapun latar belakangnya adalah pribadi yang berharga, penting, bermartabat dan layak untuk didengar pendapatnya, serta diberi kesempatan untuk berkembang.” ujarnya.
Sementara itu, Samuel Steven Siagian, penjaga gawang yang dipercaya sebagai wakil kapten, tumbuh di kawasan Klender, Jakarta Timur. Ia kehilangan ayahnya sejak kecil dan dibesarkan oleh ibunya yang bekerja sebagai penambal ban.
Di lingkungan yang rawan kenakalan remaja dan tawuran, Samuel memilih lapangan sepak bola sebagai ruang dan kesempatan untuk membangun arah hidupnya.
“Ajang ini menjadi kesempatan bagi saya untuk bertemu orang muda dari berbagai negara, berbagi pengalaman, dan belajar bersama," ungkapnya.
"Saya ingin memberikan yang terbaik untuk tim saya, meraih juara 1, dan mendapatkan penghargaan Best Goalkeeper. Saya juga ingin membuktikan bahwa anak dari lingkungan seperti saya juga mampu membawa nama Indonesia.” ucapnya.
Melalui Garuda Baru, anak-anak ini tidak hanya dilatih kemampuan sepak bolanya. Mereka juga mendapatkan pembinaan karakter, kepemimpinan, serta pelatihan komunikasi agar mampu menyampaikan pengalaman hidup mereka di forum internasional.







