Kisah Thinaah Muralitharan Sulit Adaptasi Gegara Tak Bisa Bahasa Mandarin
Thinaah Muralitharan kesulitan beradaptasi saat pertama kali bergabung dengan Sekolah Olahraga Bukit Jalil (BJSS).
www.sportcorner.id - Ganda putri Malaysia, Thinaah Muralitharan kesulitan beradaptasi saat pertama kali bergabung dengan Sekolah Olahraga Bukit Jalil (BJSS).
Saat pertama memasuki sekolah olahraga tanpa pengetahuan bahasa Mandarin, Thinaah mendapati dirinya dikelilingi oleh rekan satu tim yang berkomunikasi hampir seluruhnya dalam bahasa yang tidak dia mengerti.
Hal ini membuatnya merasa terisolasi di lingkungan yang seharusnya membina calon juara.
"Sejujurnya, saya merasa sangat tersisih. Saya sering menangis kepada orang tua saya hampir setiap malam dan mengatakan bahwa saya tidak ingin berada di sana karena saya merasa tidak diterima," ujarnya, dalam podcast Average Not Average.
Pemain bulutangkis kelahiran Klang ini mengatakan tiga bulan pertama sangat sulit karena ia kesulitan beradaptasi dengan kehidupan jauh dari rumah sambil mengatasi tuntutan latihan.
Ayahnya akhirnya mendorong Thinaah untuk mempelajari satu kata baru setiap hari dan melibatkan diri dalam percakapan dengan rekan satu timnya daripada menarik diri.
"Saya sama sekali tidak tahu bahasa Mandarin ketika masuk sekolah olahraga, tetapi perlahan-lahan, bergaul dengan teman-teman saya setiap hari, saya mempelajarinya, dan setelah sekitar satu tahun, saya bisa berbicara bahasa itu," ucapnya.
Tekad untuk beradaptasi itu kemudian mencerminkan ketangguhan yang Thinaah tunjukkan di lapangan, di mana ia dan Pearly Tan telah membangun reputasi untuk rotasi agresif dan gaya menyerang yang tanpa henti.





