Respons Pelatih Panjat Tebing Dinonaktifkan Gegara Dugaan Pelecehan Seksual
Pelatih kepala tim panjat tebing Indonesia nonaktif, Hendra Basir, membantah telah melakukan tindakan pelecehan seksual kepada delapan atlet.
Terkait pelecehan seksual, Hendra mengaku sama sekali tidak pernah melakukan hal tidak senonoh kepada atlet putri, seperti meraba-raba bagian vital, memaksa berhubungan seks, dan lain-lain.
Tapi, dia tak menampik memang pernah mencium kening atau ubun-ubun dan memeluk atlet putri yang sedang drop saat pertandingan maupun latihan.
"Tetapi itu 'kan dalam konteks memberikan semangat kepada mereka kalau sedang menangis atau mentalnya drop, jadi ya pasti saya peluk dan diakhirnya mencium keningnya, layaknya kebiasaan yang saya lakukan kepada anak saya kalau habis salat atau mau berangkat sekolah," ucapnya.
"Jika tindakan tersebut dianggap sebagai sebuah pelecehan seksual, maka saya siap menerimanya," ungkapnya.
Menurut Hendra, ada lima atlet putra dan tiga putri yang melaporkannya kepada Ketua Umum PP FPTI Yenny Wahid, terkait dugaan kedua tindakan tersebut.
Salah satu dari tiga atlet putri yang melapor, bahkan juga telah meminta maaf kepada Hendra dengan disaksikan sejumlah atlet lainnya pada pertengahan Januari lalu. Atlet muda bersangkutan merasa tindakan yang seharusnya bukan masalah itu, justru menjadi polemik dan kini menyudutkan sang pelatih.
"Jadi menurut saya, ini memang terkonsep untuk memojokkan, begitu pun ya tidak apa-apa, saya terima penonaktifan sebagai pelatih kepala itu, meski sampai saat ini tidak ada undangan federasi kepada saya untuk mengklarifikasi informasi yang beredar," pungkasnya.


