Eko Yuli Beli Sawah dan Bangun Sasana dari Kesuksesan Jadi Atlet Angkat Besi
Menjadi atlet berprestasi menjanjikan masa depan yang cerah. Itulah yang diyakini Eko Yuli Irawan kala masih kanak-kanak.
Eko pun menjalani hari-hari penuh perjuangan dalam menggapai mimpinya. Tak mudah, butuh lima tahun baginya untuk bisa masuk ke Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di 2006.
Eko lantas dipercaya mewakili Merah Putih di ajang internasional, kejuaraan dunia junior angkat besi tahun 2006 di Hangzhou.
Pada kejuaraan dunia pertamanya itu, Eko berhasil meraih medali perak. Setahun berikutnya pada 2007, dia akhirnya mendulang medali emas dalam kejuaraan dunia junior angkat besi yang berlangsung di Praha.
Emas inilah yang membuka jalan Eko mengangkat derajat kedua orang tuanya. Karena atas prestasinya tersebut, dia diganjar bonus dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) kala itu senilai Rp25 juta, yang digunakannya untuk membeli tanah bagi kedua orang tuanya.
“Bersamaan dengan saya dapat bonus itu, tidak sengaja orang tua di kampung bertemu orang yang mau jual tanah. Jadi langsung saya kirim uangnya buat beli tanah itu,” kisah lifter peraih empat medali Olimpiade ini.
Setelah mampu membelikan kedua orang tuanya tanah, rasa waswas Eko saat pertama merantau pun sirna. Dia makin bersemangat mencetak prestasi mengharumkan nama bangsa. Hasilnya di SEA Games 2007 Thailand, Eko kembali meraih medali emas.
Lagi-lagi, bonus yang didapatkannya dari Pemerintah atas medali emas ini dia persembahkan buat keluarga, untuk membangun rumah di atas tanah tersebut.
“Itu pertama kalinya di multievent saya bisa dapat medali. Bonusnya kan lumayan, Rp200 juta. Dari situ saya pulang ke Lampung itu, orang tua saya menjemput di bandara, mereka menangis haru. Karena bonusnya benar-benar buat membangun rumah, dari kami yang sebelumnya tidak punya apa-apa,” urai Eko.






