Eko Yuli Beli Sawah dan Bangun Sasana dari Kesuksesan Jadi Atlet Angkat Besi
Menjadi atlet berprestasi menjanjikan masa depan yang cerah. Itulah yang diyakini Eko Yuli Irawan kala masih kanak-kanak.
Orang tua Eko yang sebelumnya sempat tak setuju dengan keputusannya menjadi atlet pun kini memberikan dukungan penuh. Berbekal doa mereka dan latihan serta disiplin, Eko Yuli melesat menjadi lifter Indonesia paling konsisten dalam keikutsertaan di Olimpiade.
Tercatat sudah lima kali dia mewakili Indonesia di ajang olahraga terbesar di dunia ini secara beruntun, mulai dari Beijing 2008 hingga Paris 2024.
Dengan pencapaian dua medali perak, masing-masing pada kategori 62 kilogram di Olimpiade 2016 dan kategori 61 kilogram di Olimpiade 2020, serta dua medali perak masing-masing kategori 56 kilogram di Olimpiade 2008 dan 62 kilogram di Olimpiade 2012.
Berbagai prestasi telah dicetak Eko dalam ragam keikutsertaannya di ajang-ajang dunia. Pundi-pundi medali emas pun banyak dikoleksinya, bersama dengan bonus-bonus rupiah yang didapatkannya sebagai bentuk penghargaan dari Pemerintah.
Bonus-bonus itu dimaksimalkannya demi masa depan keluarganya, termasuk membelikan sawah untuk kedua orang tuanya.
“Bonus Olimpiade Beijing kalau tidak salah Rp300 juta, saya belikan sawah untuk orang tua. Setelah itu orang tua bertani di sawah sendiri. Sebelumnya kan bertani di tanah milik orang dengan sistem bagi hasil,” sebut Eko.
Bukan itu saja, kecintaan Eko pada angkat besi membuatnya membangun sasana tempat latihan angkat besi miliknya sendiri di Bekasi dari bonus-bonus prestasi yang dikumpulkannya.
Sasana ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana olahraga angkat besi dengan langsung dilatih oleh Eko, sebagai sarana regenerasi atlet.






